ternyata hatinya tak sekuat tubuhnya.
tubuh kekar dan kuat bahkan hampir jarang sakit-sakitan.
aktif kesana kemari mengikuti rutinitas bahkan aktivitas
dadakan. kaki yang selalu kekar dan tetap melangkah
mengikuti alunan musik kehidupan. mata yang menyorot
tajam setiap nada nada yang hiruk pikuk dalam dunia.
telinga yang selalu mendengar keluh kesah hati-hati orang
lain. tangan yang sama kerjanya mengais harta demi
berlangsungnya kehidupan.
tunggang langgang bahkan nyaris terkeos dijalanan. tapi
tetap berdiri kuat dan kokoh. pancarkan senyum tanda
bahwa dirinya kuat. dirinya mampu tapi bukan tanda
kesombongan, melainkan tak mau melihat siapa yang
melihatnya ikut merasa apa yang sebenarnya dirasa. tetap
pancarkan buncahan dada bukan berarti ia congkak
dengan apa yang dipunya, hanya ia tak mau menatap
orang lain yang menatapnya ikut merasa apa yang dirasa.
sumringah tertawanya ia pancarkan tanda ia bahagia setiap
saat, ceria setiap saat, tak ada duka dalam peluhnya.
candaan segarnya yang selalu terpancar dari pesona aura
wajah dan gerakan tubuhnya. menyempurnakan bahwa ia
tak mempunyai masalah sedikitpun. ayunan dan dentingan
suara lantangnya saat bersikap tegas tak menggambarkan
ia sosok wanita yang lemah.
namun.....
saat kesendirian adalah saat yang tepat baginya menangis.
mengeluarkan yang tertahan sedari tadi mendorong untuk
keluar. memuncratkan air mata kesedihan, kemarahan,
kebencian, kegundahan dan segala yang dirasa. air mata
yang mewakili setiap permasalahan yang dirasa. setiap
tetesnya yang berarti adalah kelelahan yang dirasa. setiap
tetesnya yang dirasa adalah masalah-masalah yang
dipunya.
mengadu sejadi jadinya kepada Kekasihnya. dimana tak
ada penghalang lagi antara dia dengan Kekasihnya.
mengabarkan tentang apa yang menimpanya seharian. dan
begitu terus dilakukan setiap saat kesendirian datang.
bukan karena ia malu, bukan karena ia takut. ia hanya ingin
tak ada yang tahu apa yang dirasa. karena ia tahu tak ada
tempat yang mampu mendengarkan. tak ada tempat yang
layak untuk mengadu, tak ada orang yang mampu
menjaga. dan ia percaya hanya Kekasihnya yang mampu
melakukannya.
ia percaya pada Kekasihnya yang amat mencintainya. ia
yakin pada Kekasihnya yang masih mendengar jeritan
hatinya, luapan hatinya, rintihan hatinya. ya, hanya
Kekasihnya yang mengerti semuanya.
hati yang ternyata tak sekuat tubuhnya yang kekar. karena
hatinya begitu lemah dan hanya Kekasihnya yang mampu
menguatkan. hatinya yang begitu rapuh namun hanya
Kekasihnya lah yang mampu mengokohkan kembali.
dan memang tubuhnya tak sekuat hatinya. dan itulah........
*VeNA*
tubuh kekar dan kuat bahkan hampir jarang sakit-sakitan.
aktif kesana kemari mengikuti rutinitas bahkan aktivitas
dadakan. kaki yang selalu kekar dan tetap melangkah
mengikuti alunan musik kehidupan. mata yang menyorot
tajam setiap nada nada yang hiruk pikuk dalam dunia.
telinga yang selalu mendengar keluh kesah hati-hati orang
lain. tangan yang sama kerjanya mengais harta demi
berlangsungnya kehidupan.
tunggang langgang bahkan nyaris terkeos dijalanan. tapi
tetap berdiri kuat dan kokoh. pancarkan senyum tanda
bahwa dirinya kuat. dirinya mampu tapi bukan tanda
kesombongan, melainkan tak mau melihat siapa yang
melihatnya ikut merasa apa yang sebenarnya dirasa. tetap
pancarkan buncahan dada bukan berarti ia congkak
dengan apa yang dipunya, hanya ia tak mau menatap
orang lain yang menatapnya ikut merasa apa yang dirasa.
sumringah tertawanya ia pancarkan tanda ia bahagia setiap
saat, ceria setiap saat, tak ada duka dalam peluhnya.
candaan segarnya yang selalu terpancar dari pesona aura
wajah dan gerakan tubuhnya. menyempurnakan bahwa ia
tak mempunyai masalah sedikitpun. ayunan dan dentingan
suara lantangnya saat bersikap tegas tak menggambarkan
ia sosok wanita yang lemah.
namun.....
saat kesendirian adalah saat yang tepat baginya menangis.
mengeluarkan yang tertahan sedari tadi mendorong untuk
keluar. memuncratkan air mata kesedihan, kemarahan,
kebencian, kegundahan dan segala yang dirasa. air mata
yang mewakili setiap permasalahan yang dirasa. setiap
tetesnya yang berarti adalah kelelahan yang dirasa. setiap
tetesnya yang dirasa adalah masalah-masalah yang
dipunya.
mengadu sejadi jadinya kepada Kekasihnya. dimana tak
ada penghalang lagi antara dia dengan Kekasihnya.
mengabarkan tentang apa yang menimpanya seharian. dan
begitu terus dilakukan setiap saat kesendirian datang.
bukan karena ia malu, bukan karena ia takut. ia hanya ingin
tak ada yang tahu apa yang dirasa. karena ia tahu tak ada
tempat yang mampu mendengarkan. tak ada tempat yang
layak untuk mengadu, tak ada orang yang mampu
menjaga. dan ia percaya hanya Kekasihnya yang mampu
melakukannya.
ia percaya pada Kekasihnya yang amat mencintainya. ia
yakin pada Kekasihnya yang masih mendengar jeritan
hatinya, luapan hatinya, rintihan hatinya. ya, hanya
Kekasihnya yang mengerti semuanya.
hati yang ternyata tak sekuat tubuhnya yang kekar. karena
hatinya begitu lemah dan hanya Kekasihnya yang mampu
menguatkan. hatinya yang begitu rapuh namun hanya
Kekasihnya lah yang mampu mengokohkan kembali.
dan memang tubuhnya tak sekuat hatinya. dan itulah........
*VeNA*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar