Selasa, 08 Oktober 2013

*EFEK DARI SEMESTER TUJUH*

*EFEK DARI SEMESTER TUJUH*

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kapal ini sudah berlayar jauh ke depan. Sudah melewati pertengahan dari lautan. Sebentar lagi kapal akan berlabuh. Bukan lagi ombak kecil dipinggir pinggir laut yang dirasa. Tapi ombak besar yang bisa mengguncangkan kapal ini. Bukan juga angin sepoi-sepoi yang di dapat, mungkin angin badai yang akan mengombang ambingkan kapal ini.

Perjalanan ini juga sudah jauh berada di depan. Telah melewati batu-batu kecil di awal perjalanan. Tapi sekarang, bukan batu-batu kecil lagi yang akan dihadapi. Tapi batu besar yang siap menjatuhkan kita saat berjalan. Batu yang siap membuat kita tersandung dan kemudian jatuh menyerah.

Pendakian ini juga sudah hampir sampai pada puncaknya. Bukan lagi rumput-rumput hijau yang diinjak. Tapi semak berduri yang terhidang yang membuat kita lemah bahkan sakit dibuatnya.

Pada hakikatnya, hampir semua berubah. Tantangan itu, kian mencekik leher hingga sulit bernafas. Ujian itu, kian menusuk hingga tak mampu berdiri kokoh. Dan saatnya, ketika semua hadir bukan lantas kata “menyerah” yang keluar. Bukan langkah “mundur” yang dilakukan. Tapi dengan ombak yang besar bukankah kita akan lebih erat berpegang. Bukankah dengan angin yang kencang kita dapat lebih kuat bertahan. Dengan batu-batu yang besar kita bisa lebih kuat. Dengan semak berduri kita bisa lebih berhati-hati.

Sehingga pada akhirnya, kita akan terus semangat  pantang menyerah. Kita akan terus maju tanpa berfikir untuk mundur. Dan kita akan sampai pada tempat yang indah dan puncak tertinggi dari setiap usaha yang kita lakukan.

Semoga senantiasa Allah menguatkan langkah kita. Menyehatkan tubuh kita. Dan meningkatkan ruhiyah kita agar tetap bertahan meski berat. Tetap bernafas meski sesak. Tetap melangkah meski terseok.
Tetap semangat dan saling mendoakan sahabatku.

Ku tahu bahwa motivasi terbesar ada dalam diriku. Sebanyak apapun motivasi yang orang berikan, tapi kalau aku tetap berkata aku tak bisa, aku tak mampu, maka tak akan ada kebangkitan dalam diri, justru akan semakin membuatku terpuruk.

Maka tatkala suatu saat aku melemah, maka cukuplah tulisan ini menjadi penyemangatku kembali, karena sebenarnya aku sedang menyemangati diriku sendiri. Dan cukuplah Allah bagiku, cukuplah Ia menjadi penyemangat terbaikku. Karena Ia sebaik-baiknya tempat bersandar. J

Terimakasih ya Allah…. J


**VeNA** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar