Sabtu, 26 Mei 2012

MENGINGAT DAN KEMATIAN


MENGINGAT DAN KEMATIAN

Perjalanan malam itu dengan motor mio hitam. Harus ada yang dijemput, dan entah itu siapa. Tapi itu adalah amanah yang harus aku jalankan. Bahkan aku lupa laki-laki atau wanita yang kuboncengkan malam itu. Tapi yang jelas ini adalah amanah. Entah anak kecil atau orang dewasa yang menemaniku diboncengan motorku itu. Aku sungguh tak tahu. Tujuanku hanya satu. Membawa yang kubonceng karena itu adalah amanah.

Jalanan yang belum ku kenal sebelumnya. Dan entah jam berapa, tapi suasana sudah mulai lengang dan itu adalah malam hari. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas di jalan ini. Saat ini posisiku berada dipinggiran kiri, dan ingin memutar balik. Kupasang lampu sen kanan untuk memutar balik motorku. Posisi memang dijalanan lumayan menanjak. Setelah sebelumnya kulihat sebuah mobil melaju disebelah kananku yang agak terpental sedikit karena jalanan rusak.

Dan akhirnya aku berada diposisi kiri jalan sebelah setelah motor kuarahkan ke arah balik. Aku yang sama sekali tak mengetahui bagaimana jalanan ini bentuknya. Sampai akhirnya, dan ternyata, ini memang berada di turunan jalan. Aku yang bermaksud melihat kondisi jalan dengan cara berdiri diatas motorku. Tapi ternyata, belakangku atau boncenganku itu terlalu berat dibandingkan badanku sendiri. Sedangkan kondisi kecepatan merupakan kecepatan yang begitu lumayan.

Boncengan menahanku dan jalanan yang membuatku tak bisa memagang kendali lagi. Belakang motor dan orang yang kubonceng terjungkal ke belakang. Dan saat ini motor memang sudah terputar posisinya. Entah apa yang harus aku lakukan. Tapi seolah tubuhku tak berdaya. Tubuh ini terpelanting sejauh jauhnya. Yang aku lihat hanya orang yang kubonceng ternyata adalah laki-laki dewasa yang sudah tergeletak dan masih belum aku mengenalnya. Dan motorku, yang sudah terpecah pecah menjadi beberapa bagian.

Sementara tubuh ini benar-benar terpelanting sangat jauh. “ya Allah, maafkan hamba, mungkin ini adalah akhir hidup hamba sebelum hamba memasuki usia 22 tahun, astaghfirullahaladziim”. Hanya kata2 ini yang ada direlung hatiku saat tubuh ini terpelanting sampai akhirnya aku tak sadarkan diri. Dan entah aku terjatuh dimana.
***
Wajah yang aku lihat, ya wajah yang aku kenal, sahabatku Hajiah Nurdiani. “I, ane dimana?”. Aku yang mulai siuman atas kejadian yang menimpaku. “I, ane kenapa?”, dan hajiah hanya mengajakku untuk bercermin. “astaghfirullah, I, kenapa muka ane jadi gini?”, tak ada satupun pertanyaanku yang dijawabnya. “I, gigi-gigi ane”. Dan aku yang bertanya heran dan bingung. Karena semua kondisi gigi-gigi bawahku terasa kendur dan ingin segera copot. Akhirnya semua gigi-gigi bawahku copot di dalam tanganku sendiri. Kembali kulihat wajah dan kusenyum dengan gigi-gigi yang sudah tanggal. “I, kenapa?”.

Dan kondisi tubuh tulang belakang yang agak terhimpit dan mengecil karena tertekan saat aku jatuh dari kejadian sebelumnya. “I, maafin ane I, maafin ane, dan kupeluk sosok sahabatku ini”, masih tak ada jawaban hanya air mata dari dirinya yang tak henti-henti.

“ya Allah, ampuni hamba”. Dengan kondisi tubuh yang sangat kesakitan. Kaki yang sakit tatkala dibuat berjalan. Sampai akhirnya ada yang mengabarkan kalau mamahku datang. Dan benar sosok wanita yang kucinta itu datang. Dan aku bingung entah apa yang aku katakana padanya. “ga ada yang selamet selain leli, termasuk motor dan tas leli juga ga selamet”. Mamah hanya mengatakan itu.

Dan aku teringat dengan motor itu. Motor atas nama mamah yang sudah kupakai selama ini. Tak ada yang mampu aku katakana selain maaf. “maafin leli mah, maafiin leli”. Berulang ulang kuucapkan kalimat itu dengan deraian air mata dan kulihat mamah menangis. “ya Allah, maafkan hamba”

Dan sampai akhirnya, tangisanku membangunkanku malam ini. “astaghfirullahaladziim, ya Allah, maafkan hamba”. Kulihat jam yang menunjukkan pukul 02.38. ya Allah, terimakasih Kau kembali bangunkanku untuk sekedar memohon ampun, dan berterimakasih atas mimpi malam ini.
#ONLY MY DREAM#
***
Sebelum aku tertidur yang agak malam seperti biasanya. Dan pulang yang cukup malam dengan membeli seporsi bubur ayam untuk mengisi perutku karena memang belum makan malam. Saat sampai rumah sosok wanita yang kucintai tak biasanya sedikit agak berkomentar. “kenapa pulangnya malem si?”, wahduh kenapa pula komentar yang selama ini tak pernah dibawa kepermukaan kembali lagi. Padahal memang aku sering pulang jam segini senin sampai jum’at karena jam kuliah malam. Dan tak ada komentar itu.

Aku hanya diam, iya mah maafin leli yah. “udah, aku yang bebenah, mamah tidur aja”. Aku sudah tahu sekali pasti komentar ini terjadi karena mamah sangat lelah. Padahal aku juga lelah.  Tapi janji pada diri sendiri yang tak boleh aku lupakan dan selalu kuingat. SESIBUK APAPUN AKU DILUAR, SATU HAL YANG TAK BOLEH TERLUPA, TUGAS DIRUMAH DAN KELUARGA.

“mamah mau bubur ga?”, kutawarkan bubur yang tadi kubeli. Kondisi yang sudah lelah sebenarnya. Tapi ini harus dilakukan. Dalam hati terus berbisik, awas ve yang ikhlas jangan sampe kejadian beberapa lalu kondisi ga ikhlas ngerjain nyuci piring , tuh piring pada pecah.

Huuuuffffttt… dan akhirnya…. Allah mengingatkanku lewat mimpi malam ini. Terimakasih ya Allah, sungguh aku sangat mencintai-Mu. Tetapkan aku untuk mengingat, mengingat-Mu, mengingat nikmat-nikmat-Mu, mengingat nama-nama-Mu yang indah, mengingat kematian, mengingat siapapun yang harus diingat, mengingat apapun yang bisa diingat dan harus diingat, mengingat semua yang telah terjadi sebagai muhasabah untukku yang tiap hari usiaku bertambah namun sebenarnya mengurangi jatahku hidup didunia.

Robbi, aku yakin kematian akan datang padaku. Dan kumohon hanya satu hal, HUSNUL KHOTIMAH. Amiin.. ya Allah, terimakasih atas semua.

Sahabatku yang dirahmati Allah, sungguh selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, dalam setiap detik nafas dan hembusannya. Apakah kita akan jadi orang yang buta dan tuli dengan semua nikmat yang Dia berikan pada kita semua?, sahabatku, semoga ini bukan catatanku yang terakhir. Terimakasih..

*VeNA*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar