MENGINGAT DAN KEMATIAN
Perjalanan malam itu dengan motor
mio hitam. Harus ada yang dijemput, dan entah itu siapa. Tapi itu adalah amanah
yang harus aku jalankan. Bahkan aku lupa laki-laki atau wanita yang
kuboncengkan malam itu. Tapi yang jelas ini adalah amanah. Entah anak kecil
atau orang dewasa yang menemaniku diboncengan motorku itu. Aku sungguh tak
tahu. Tujuanku hanya satu. Membawa yang kubonceng karena itu adalah amanah.
Jalanan yang belum ku kenal
sebelumnya. Dan entah jam berapa, tapi suasana sudah mulai lengang dan itu
adalah malam hari. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas di jalan ini. Saat
ini posisiku berada dipinggiran kiri, dan ingin memutar balik. Kupasang lampu
sen kanan untuk memutar balik motorku. Posisi memang dijalanan lumayan
menanjak. Setelah sebelumnya kulihat sebuah mobil melaju disebelah kananku yang
agak terpental sedikit karena jalanan rusak.
Dan akhirnya aku berada diposisi
kiri jalan sebelah setelah motor kuarahkan ke arah balik. Aku yang sama sekali
tak mengetahui bagaimana jalanan ini bentuknya. Sampai akhirnya, dan ternyata,
ini memang berada di turunan jalan. Aku yang bermaksud melihat kondisi jalan
dengan cara berdiri diatas motorku. Tapi ternyata, belakangku atau boncenganku
itu terlalu berat dibandingkan badanku sendiri. Sedangkan kondisi kecepatan
merupakan kecepatan yang begitu lumayan.
Boncengan menahanku dan jalanan
yang membuatku tak bisa memagang kendali lagi. Belakang motor dan orang yang
kubonceng terjungkal ke belakang. Dan saat ini motor memang sudah terputar
posisinya. Entah apa yang harus aku lakukan. Tapi seolah tubuhku tak berdaya. Tubuh
ini terpelanting sejauh jauhnya. Yang aku lihat hanya orang yang kubonceng
ternyata adalah laki-laki dewasa yang sudah tergeletak dan masih belum aku
mengenalnya. Dan motorku, yang sudah terpecah pecah menjadi beberapa bagian.
Sementara tubuh ini benar-benar
terpelanting sangat jauh. “ya Allah, maafkan hamba, mungkin ini adalah akhir
hidup hamba sebelum hamba memasuki usia 22 tahun, astaghfirullahaladziim”. Hanya
kata2 ini yang ada direlung hatiku saat tubuh ini terpelanting sampai akhirnya
aku tak sadarkan diri. Dan entah aku terjatuh dimana.
***
Wajah yang aku lihat, ya wajah
yang aku kenal, sahabatku Hajiah Nurdiani. “I, ane dimana?”. Aku yang mulai
siuman atas kejadian yang menimpaku. “I, ane kenapa?”, dan hajiah hanya
mengajakku untuk bercermin. “astaghfirullah, I, kenapa muka ane jadi gini?”,
tak ada satupun pertanyaanku yang dijawabnya. “I, gigi-gigi ane”. Dan aku yang
bertanya heran dan bingung. Karena semua kondisi gigi-gigi bawahku terasa
kendur dan ingin segera copot. Akhirnya semua gigi-gigi bawahku copot di dalam
tanganku sendiri. Kembali kulihat wajah dan kusenyum dengan gigi-gigi yang
sudah tanggal. “I, kenapa?”.
Dan kondisi tubuh tulang belakang
yang agak terhimpit dan mengecil karena tertekan saat aku jatuh dari kejadian
sebelumnya. “I, maafin ane I, maafin ane, dan kupeluk sosok sahabatku ini”,
masih tak ada jawaban hanya air mata dari dirinya yang tak henti-henti.
“ya Allah, ampuni hamba”. Dengan kondisi
tubuh yang sangat kesakitan. Kaki yang sakit tatkala dibuat berjalan. Sampai akhirnya
ada yang mengabarkan kalau mamahku datang. Dan benar sosok wanita yang kucinta
itu datang. Dan aku bingung entah apa yang aku katakana padanya. “ga ada yang
selamet selain leli, termasuk motor dan tas leli juga ga selamet”. Mamah hanya
mengatakan itu.
Dan aku teringat dengan motor
itu. Motor atas nama mamah yang sudah kupakai selama ini. Tak ada yang mampu
aku katakana selain maaf. “maafin leli mah, maafiin leli”. Berulang ulang
kuucapkan kalimat itu dengan deraian air mata dan kulihat mamah menangis. “ya
Allah, maafkan hamba”
Dan sampai akhirnya, tangisanku
membangunkanku malam ini. “astaghfirullahaladziim, ya Allah, maafkan hamba”. Kulihat
jam yang menunjukkan pukul 02.38. ya Allah, terimakasih Kau kembali bangunkanku
untuk sekedar memohon ampun, dan berterimakasih atas mimpi malam ini.
#ONLY MY DREAM#
***
Sebelum aku tertidur yang agak
malam seperti biasanya. Dan pulang yang cukup malam dengan membeli seporsi
bubur ayam untuk mengisi perutku karena memang belum makan malam. Saat sampai
rumah sosok wanita yang kucintai tak biasanya sedikit agak berkomentar. “kenapa
pulangnya malem si?”, wahduh kenapa pula komentar yang selama ini tak pernah dibawa
kepermukaan kembali lagi. Padahal memang aku sering pulang jam segini senin
sampai jum’at karena jam kuliah malam. Dan tak ada komentar itu.
Aku hanya diam, iya mah maafin
leli yah. “udah, aku yang bebenah, mamah tidur aja”. Aku sudah tahu sekali
pasti komentar ini terjadi karena mamah sangat lelah. Padahal aku juga lelah. Tapi janji pada diri sendiri yang tak boleh
aku lupakan dan selalu kuingat. SESIBUK APAPUN AKU DILUAR, SATU HAL YANG TAK
BOLEH TERLUPA, TUGAS DIRUMAH DAN KELUARGA.
“mamah mau bubur ga?”, kutawarkan
bubur yang tadi kubeli. Kondisi yang sudah lelah sebenarnya. Tapi ini harus
dilakukan. Dalam hati terus berbisik, awas ve yang ikhlas jangan sampe kejadian
beberapa lalu kondisi ga ikhlas ngerjain nyuci piring , tuh piring pada pecah.
Huuuuffffttt… dan akhirnya….
Allah mengingatkanku lewat mimpi malam ini. Terimakasih ya Allah, sungguh aku
sangat mencintai-Mu. Tetapkan aku untuk mengingat, mengingat-Mu, mengingat
nikmat-nikmat-Mu, mengingat nama-nama-Mu yang indah, mengingat kematian,
mengingat siapapun yang harus diingat, mengingat apapun yang bisa diingat dan
harus diingat, mengingat semua yang telah terjadi sebagai muhasabah untukku
yang tiap hari usiaku bertambah namun sebenarnya mengurangi jatahku hidup
didunia.
Robbi, aku yakin kematian akan
datang padaku. Dan kumohon hanya satu hal, HUSNUL KHOTIMAH. Amiin.. ya Allah,
terimakasih atas semua.
Sahabatku yang dirahmati Allah,
sungguh selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, dalam setiap detik nafas dan
hembusannya. Apakah kita akan jadi orang yang buta dan tuli dengan semua nikmat
yang Dia berikan pada kita semua?, sahabatku, semoga ini bukan catatanku yang
terakhir. Terimakasih..
*VeNA*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar